Dua pusaka tersebut berupa sebilah tombak dan Keris Kiai Gadakan yang selama ini disimpan dan dirawat di Situs Ndalem Pojok Kediri.
Prosesi jamasan tidak dilakukan dalam satu hari.
Sejak dua hari sebelumnya, pusaka-pusaka telah menjalani proses perendaman untuk menghilangkan karat dan kotoran.
Puncak prosesi dilaksanakan pada Jumat Legi melalui ritual penyucian pusaka.
Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan slametan sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa.
Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, R. Kushartono, mengatakan jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan budaya bangsa.
"Melestarikan budaya luhur bangsa sangat penting karena budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa. Tradisi jamasan di Bulan Suro menjadi salah satu cara merawat nilai-nilai tersebut. Di antara pusaka yang dijamas tahun ini terdapat dua pusaka milik Presiden Soekarno yang tersimpan di Ndalem Pojok," ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut juga terbuka bagi masyarakat umum. Tahun ini sekitar 70 pusaka mengikuti prosesi jamasan yang terdiri atas sekitar 20 pusaka milik keluarga Ndalem Pojok dan sekitar 50 pusaka milik masyarakat serta komunitas budaya.
Pemimpin prosesi jamasan, Mas Jeje, menjelaskan setiap tahun masyarakat menitipkan pusaka mereka sebagai bentuk ikhtiar melestarikan peninggalan leluhur.
"Total ada sekitar 70 pusaka dan benda-benda bersejarah lainnya yang mengikuti prosesi jamasan tahun ini," katanya.
Menurut Jeje, tombak dan Keris Kiai Gadakan merupakan pusaka peninggalan Bung Karno yang diperoleh saat melakukan kunjungan ke Grobogan, Jawa Tengah.
Kedua pusaka tersebut hingga kini masih tersimpan dan dirawat di Situs Ndalem Pojok Kediri.
Kegiatan ini juga diikuti kalangan akademisi dan generasi muda.
Salah satunya Firdaus, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, yang menilai tradisi jamasan memiliki nilai edukatif dalam menjaga identitas budaya bangsa.
"Banyak generasi muda yang belum memahami makna jamasan. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat mengenalkan bagaimana cara merawat warisan budaya. Jangan sampai kita kehilangan budaya sendiri, sementara di sisi lain kita marah ketika budaya Indonesia diklaim oleh negara lain," ujarnya.
Jeje menambahkan, tradisi jamasan bukan hanya bertujuan menjaga kondisi fisik pusaka.
Tradisi tersebut juga menjadi sarana merawat ingatan kolektif terhadap perjalanan sejarah bangsa.
Melalui pelestarian budaya ini, generasi muda diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia. (uji/van)










