Ingatkan Nilai Sejarah Gedung Grahadi, Ning Lia Ajak Masyarakat Jaga Cagar Budaya dan Guyub Rukun

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Jumat (26/6/2026) berakhir ricuh dan berujung pada perusakan sejumlah fasilitas umum. Menanggapi insiden tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk kembali mengedepankan semangat dialog dan guyub rukun.

Ning Lia, sapaan akrabnya, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tindakan anarkis yang mewarnai penyampaian aspirasi tersebut. Ia menegaskan bahwa berpendapat di muka umum adalah hak konstitusional, namun harus dibarengi dengan tanggung jawab menjaga ketertiban umum.

“Saya sangat mendukung masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa. Namun, saya sangat menyayangkan jika aksi tersebut harus dibarengi dengan tindakan anarkisme, apalagi hingga merusak fasilitas umum," ujar Ning Lia, Sabtu (27/6/2026).

“Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang cerdas dan beradab. Aspirasi tetap bisa tersampaikan dengan elegan tanpa harus merusak. Semangat guyub rukun harus tetap menjadi ruh kita dalam berbangsa," tambahnya.

Lebih lanjut, Ning Lia mengingatkan bahwa Gedung Negara Grahadi bukan sekadar kantor pemerintahan biasa, melainkan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi dan harus dilindungi bersama. Merawat bangunan bersejarah, menurutnya, adalah cerminan kemajuan suatu bangsa di mata dunia.

“Dunia menaruh perhatian besar pada negara yang mampu menjaga warisan sejarahnya. Jika kita ingin Indonesia menjadi pusat wisata dunia, langkah kecilnya adalah dengan menghargai dan merawat aset-aset sejarah milik negara seperti Grahadi ini," jelasnya.

Ia juga menyinggung memori kolektif terkait musibah kebakaran yang pernah menimpa Grahadi beberapa waktu silam agar menjadi pelajaran berharga supaya sejarah kelam tersebut tidak terulang. Di sisi lain, ia mendorong aparat penegak hukum (APH) untuk memaksimalkan langkah preventif dan antisipasi sejak dini.

"Kolaborasi antara kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas umum dan kesigapan APH dalam melakukan antisipasi sejak dini adalah kunci. Mari kita jaga marwah rumah rakyat ini bersama-sama, karena ini adalah warisan negara yang harus kita titipkan dengan kondisi baik kepada generasi mendatang," ujak Ning Lia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kericuhan dipicu oleh kekecewaan massa lantaran tidak ada perwakilan pemerintah yang menemui mereka. Sejumlah oknum kemudian membakar sampah di depan pintu masuk dan merusak pagar pembatas Grahadi.

Aparat gabungan TNI-Polri akhirnya mengerahkan kendaraan taktis dan menyemprotkan water cannon setelah tiga kali imbauan untuk membubarkan diri secara damai tidak diindahkan oleh massa. Polisi juga mengamankan belasan orang di sekitar lokasi, termasuk sejumlah peserta aksi hingga seorang pedagang es keliling.

Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Luthfie Sulistiawan, menegaskan bahwa pihak kepolisian sangat menghormati hak penyampaian aspirasi, namun tidak akan mentoleransi tindakan yang mengganggu keamanan.

"Kami akan melayani aksi unjuk rasa, tolong hentikan atau kita akan melakukan tindakan tegas. Sekali lagi kami berikan kesempatan meninggalkan lokasi ini, atau kita melakukan langkah-langkah tegas terukur," ungkap Luthfie, Sabtu (27/6/2026).


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: