Musim Tanam Tembakau Tiba, Permintaan Air Tangki di Sampang Melonjak

SAMPANG, BANGSAONLINE.com - Dimulainya musim tanam tembakau di Kabupaten Sampang, Madura, membawa berkah sekaligus tantangan tersendiri. Saat ini, permintaan pasokan air bersih melalui armada mobil tangki mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Tingginya kebutuhan air untuk menyiram lahan tembakau bahkan membuat para penyedia jasa pengiriman air kewalahan memenuhi pesanan petani yang datang bertubi-tubi.//

Ahmad Basori, salah seorang pemilik mobil tangki air di Sampang, mengakui bahwa fenomena ini selalu berulang setiap kali musim tanam tembakau tiba. Volume pesanan melonjak drastis jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.

“Kalau sudah masuk musim tembakau, permintaan air memang melonjak tajam. Sebagian besar pelanggan adalah petani yang membutuhkan air untuk menyiram tanaman tembakaunya,” ujar Ahmad Basori, Selasa (9/6/2026).

Menurut Basori, volume air yang dibutuhkan untuk sektor pertanian jauh melampaui kebutuhan rumah tangga. Saking padatnya jadwal pesanan, ia dan krunya terpaksa harus mendistribusikan air hingga larut malam.

“Kalau pesanan sudah banyak, pengiriman bisa sampai malam. Itu pun kadang masih tidak nututi karena permintaannya sangat tinggi, sehingga sebagian harus dikirim keesokan harinya,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa sistem antrean kini tidak dapat dihindari, sehingga para pelanggan diharapkan bisa lebih bersabar. Sementara untuk urusan kocek, tarif yang dikenakan sangat bergantung pada lokasi geografis petani.

“Kalau musim tembakau seperti sekarang, pelanggan memang harus antre. Untuk harga kami sesuaikan dengan jarak pengiriman,” tambahnya.

Kondisi di lapangan dibenarkan oleh Hasan, seorang petani tembakau asal Kecamatan Pangarengan. Ia mengaku tidak punya pilihan lain selain membeli air dari mobil tangki demi menyelamatkan dan memberi nutrisi bagi tanaman tembakaunya. Meski memiliki sumur pribadi, debit airnya ternyata tidak mampu mengover seluruh area pertaniannya yang luas.

“Air sumur ada, tetapi tidak cukup untuk menyiram semua tanaman karena lahannya cukup luas. Makanya harus dibantu dengan air tangki,” ungkap Hasan.

Untuk satu tangki air berkapasitas sekitar 7.000 liter, Hasan harus merogoh kocek sebesar Rp120 ribu hingga air tersebut sampai di lahannya.

Konsekuensi dari pembelian air ini tentu saja membuat biaya produksi atau modal tanam melonjak. Di tengah situasi tersebut, Hasan dan para petani tembakau lainnya di Sampang hanya bisa menaruh harapan besar pada masa panen nanti agar kerja keras dan modal mereka terbayar lunas.

“Kami berharap harga tembakau tahun ini lebih baik dan mengalami kenaikan, supaya biaya yang sudah dikeluarkan petani bisa tertutupi dan hasilnya lebih menguntungkan,” pungkasnya. (smp/rev)