Petugas gabungan dari pemerintah desa, kepolisian, dan tenaga medis langsung datang ke lokasi setelah menerima laporan.
Evakuasi dilakukan di tengah hujan deras dan kondisi gelap akibat padamnya listrik. Para korban kemudian dibawa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.
Dari pendataan awal, ada 19 santri putri di ruangan saat kejadian. Satu orang meninggal dunia, 11 mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda, dan tujuh lainnya selamat tanpa cedera.
Korban meninggal diketahui bernama Putri, santri asal Dusun Rawan, Desa Besuki. Ia sempat dirawat di RSIA Jatimed, namun nyawanya tidak tertolong dan meninggal sekitar pukul 06.00 WIB. Jenazah korban telah dimakamkan di kampung halamannya pada pukul 08.00 WIB.
Sementara itu, sebelas santri lainnya mengalami luka-luka. Enam orang menjalani perawatan jalan di Puskesmas Besuki dan sudah diperbolehkan pulang.
Empat orang dirawat di RSUD Besuki. Dua di antaranya sudah pulang, sementara dua lainnya masih harus menjalani operasi.
Dua santri lainnya dirawat di RSIA Jatimed, satu di antaranya meninggal dunia dan satu masih dalam perawatan intensif.
Pihak pondok pesantren telah berkoordinasi dengan aparat setempat untuk penanganan darurat. Ruangan yang ambruk telah dikosongkan dan diberi garis pengaman.
Para santri terdampak sementara dipindahkan ke gedung lain yang dinilai lebih aman.
Kapolres Situbondo, AKBP Rezi Dharmawan, bersama pihak Kementerian Agama (Kemenag) Situbondo, meninjau langsung lokasi kejadian.
Dugaan sementara, atap bangunan ambruk karena struktur yang lemah sehingga tidak mampu menahan tekanan angin dan curah hujan tinggi yang terjadi terus-menerus. (sbi/van)










