Pesan Gubernur Khofifah untuk Paskibraka Jatim: Cintai NKRI dan Jadi Anak Terbaik Bangsa

Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama pendidikan dan pelatihan Paskibraka dapat menjadi bekal untuk terus mencintai tanah air. Menurutnya, cinta terhadap NKRI harus dipupuk sejak dini dan tidak selalu sejalan dengan tingkat pendidikan seseorang.

"Setinggi apapun pendidikan itu tidak menjamin akan berseiring dengan cinta kita terhadap tanah air," tuturnya.

Khofifah menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang luar biasa karena mampu menjaga persatuan dan persaudaraan di tengah keberagaman. 

Ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga kearifan dan kebaikan bangsa dengan berbagai cara, serta tidak melupakan tanah air meskipun suatu saat mendapat kesempatan belajar di luar negeri.

"Jadilah anak terbaik di negeri ini yang memberikan kecintaan, dedikasi dan pengabdian terbaik untuk NKRI," ucapnya.

Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Jawa Timur agar tetap aman, nyaman, dan kondusif bagi siapa pun yang tinggal dan berkunjung.

"Begitu pula Jawa Timur, mari kita jaga agar semua yang datang ke Jawa Timur merasa aman, nyaman dan bahagia berada di Bumi Majapahit, kalaupun ada kekurangan mari kita benahi bersama," ajaknya.

Sebagai bentuk apresiasi, Khofifah menyerahkan piagam penghargaan kepada pembina, pelatih, pamong, anggota Paskibraka Provinsi Jawa Timur Tahun 2025, Marching Band, Paduan Suara, dan penari kolosal yang telah memberikan dedikasi terbaik dalam rangkaian upacara peringatan kemerdekaan.

"Semua luar biasa, terima kasih, semua pendukung mulai detik-detik proklamasi, pengibaran dan penurunan bendera, marching band, paduan suara, grup tari terima kasih semua," katanya.

Semangat juang juga ditunjukkan oleh para anggota Paskibraka. Muhammad Andrian Saputra, siswa SMKN 1 Purwosari, Kabupaten Pasuruan, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Paskibraka Jatim. Meski berasal dari keluarga sederhana, putra seorang kuli bangunan ini tidak menyerah untuk meraih cita-cita.

"Meskipun saya berasal dari keluarga sederhana, namun kesederhanaan itu tidak mematahkan semangat saya untuk menjadi Paskibra, perjuangan ini merubah saya. Pesan saya tidak peduli dari keluarga apapun, siapapun bisa jadi apapun," ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Trisnia Isni Susilowati, siswi SMAN 1 Pasirian asal Kabupaten Lumajang. Meski orang tuanya berjualan cilok, ia tetap gigih mengikuti seleksi hingga lolos menjadi anggota Paskibraka Jatim.

"Di rumah itu hanya ada 1 sepeda motor Supra karena setiap hari saya seleksi harus berangkat jam 5 jadi Mamah selalu mengantar saya seleksi ke Kabupaten sekitar 1 jam dari rumah saya. Insya Allah kalau cita-cita tercapai, saya bisa membelikan orang tua HP dan memberikan semua fasilitas yang orang tua butuhkan dan inginkan,” paparnya. (dev/mar)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: