Kemenko PMK Minta Daerah Perkuat Antisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Kemenko PMK meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi berdampak pada ketersediaan air, ketahanan pangan, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menyampaikan hal itu dalam sosialisasi antisipasi El Nino bersama Kementerian Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).

“Kita harus tetap memastikan masyarakat tetap aman. Kebutuhan air dan pangan terpenuhi, serta aktivitas sosial ekonomi tetap berjalan,” ujarnya.

BMKG memprediksi puncak kekeringan ekstrem terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan peluang intensitas El Nino mencapai level kuat sebesar 98 persen.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan fenomena ini berbeda dengan musim kemarau biasa karena muncul setiap tiga hingga tujuh tahun dengan durasi sembilan hingga dua belas bulan.

“BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai level kuat sebesar 98 persen. Kemudian, akan turun secara perlahan,” katanya.

Kemenko PMK meminta daerah segera memetakan sumber air baku, menyiapkan rencana kontinjensi kekeringan, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Operasi modifikasi cuaca bersama BMKG dan BNPB juga dipersiapkan untuk menambah cadangan air dan menekan risiko kekeringan.

BMKG menambahkan, fenomena El Nino diperkirakan paling berdampak di wilayah selatan garis khatulistiwa, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat terutama di enam provinsi rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Selain sektor pertanian dan energi, BMKG mengingatkan potensi penurunan kualitas udara di perkotaan yang dapat memicu ISPA dan penyakit akibat paparan panas. Pemerintah daerah diminta memperkuat pengendalian emisi kendaraan, memperluas transportasi umum, serta menyesuaikan pola tanam sesuai prakiraan iklim.

“Kita tidak panik. Saya yakin dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, kita akan lebih siap menghadapi fenomena El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau,” ucap Kepala BMKG. (rom)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: