Perkuat Fondasi Wajib Belajar 13 Tahun, Lamongan Luncurkan Kurikulum Lentera di Gebyar PAUD 2026

LAMONGAN, BANGSAONLINE.com - Alun-Alun Lamongan tampak meriah pada Senin (22/6). Ribuan siswa-siswi pendidikan anak usia dini (PAUD) berkumpul untuk menyambut kehadiran Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, dalam acara tahunan Gebyar PAUD Lamongan 2026. Acara yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan ini digelar untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan sinergi dalam mendukung program wajib belajar 13 tahun, sekaligus meningkatkan mutu layanan PAUD di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Pak Yes ini menegaskan bahwa ketangguhan suatu daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur atau kekayaan alamnya, melainkan dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dibangun sejak usia dini.

"Pemerintah Kabupaten Lamongan menapaki tiga ikhtiar besar dalam penguatan PAUD. Pertama menyukseskan wajib belajar 1 tahun prasekolah dengan prinsip tidak ada satu pun anak di Lamongan ini yang kehilangan hak pendidikan usia dini. Kedua yakni digitalisasi PAUD yang bijak, anak-anak adalah generasi digital, namun teknologi harus menjadi alat belajar bukan mengganti kasih sayang. Ikhtiar ketiga yakni penguatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, untuk membentuk anak yang tidak hanya cerdas tetapi juga sehat, disiplin, mandiri, berkarakter, dan berakhlak mulia, di sinilah peran orang tua dan peran guru sebagai teladan yang menjadi kunci utamanya," ungkap Yuhronur.

Komitmen Pemkab Lamongan ini terbukti membuahkan hasil positif. Yuhronur memaparkan sejumlah data indikator makro yang menunjukkan performa impresif Lamongan di bidang pendidikan. Meliputi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 76,80 (di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur dan nasional).

Selanjutnya indeks pendidikan berada di angka 0,68. Rata-rata lama sekolah 8,73 tahun (di atas rata-rata nasional yang baru mencapai 8,6 tahun). Sementara harapan lama sekolah menyentuh 14,04 tahun.

Keberhasilan Lamongan ini mendapat pujian langsung dari Widyaprada Ahli Utama Kemendikdasmen, Abdul Kahar. Menurutnya, Lamongan telah sukses memenuhi aspek inklusif—satu dari tiga pilar pendidikan bermutu yang sedang digalakkan pusat (inklusif, revitalisasi, dan digitalisasi).

"Prioritas selanjutnya adalah wajib belajar 1 tahun pra sekolah. Sebuah hasil penelitian membuktikan bahwa anak yang sudah pernah duduk minimal 1 tahun di TK sebelum masuk SD itu jauh lebih siap untuk menerima pembelajaran. Dari sekian lomba, dongeng bersama ayah bunda ini sebuah contoh yang luar biasa yang patut kita apresiasi. Gebyar PAUD tahun 2026 ini tolong kita buatkan sebuah indikator kinerja, setiap tahunnya lebih baik dan berdampak. Apresiasi yang luar biasa tentunya dengan Gebyar PAUD ini adalah satu momentum milestone Kota Lamongan yang bisa kita banggakan di masa yang akan datang," pesan Abdul Kahar.

Sebagai langkah konkret jangka panjang, Bupati Yuhronur Efendi memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan Kurikulum Lentera (Learning Environment berbasis Tradisi dan Akar Budaya Lamongan).

Kurikulum inovatif ini dirancang sebagai langkah strategis demi menyukseskan Visi Kabupaten Lamongan Tahun 2025–2030, yaitu: “Terwujudnya Lamongan yang Maju, Berkelanjutan, Berdaya Saing, Adil dan Sejahtera”.

Melalui Kurikulum Lentera, anak-anak Lamongan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter mulia, inovatif, serta adaptif terhadap teknologi modern tanpa kehilangan rasa cinta terhadap budaya lokal dan lingkungan tempat tinggal mereka. 

Data senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Lamongan, Shodikin. Ia menyebutkan angka partisipasi kasar (APK) PAUD Lamongan usia 3–6 tahun telah mencapai 87,73 persen. Sementara itu, angka partisipasi sekolah (APS) usia 5–6 tahun melonjak hingga 99,51 persen.

"Artinya Lamongan sangat siap untuk mendukung wajib belajar 13 tahun, ini fondasinya di PAUD," ucap Shodikin. (sof/rev)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: