Laporan M. Sulthon Neagara, wartawan HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE dari Media Center Haji 2026 Jeddah Arab Saudi
JEDDAH, BANGSAONLINE.com – Amirul Haj 2026 Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA berpesan kepada seluruh jemaah haji agar menjaga kesehatan dan tidak memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram atau Nabawi, jika kondisinya tidak memungkinkan.
Kiai Asep juga mengapresiasi kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Dr Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) dalam penyelenggaraan haji 2026. Menurut Kiai Asep, Gus Irfan bekerja keras dan secara aktif dan natural menyapa para jemaah haji dengan penuh simpatik.
“Saya mengikuti perjalanan beliau (Menteri Haji Gus Irfan). Beliau menunjukkan betul kerja yang berkesungguhan dan integritas yang selalu terekspresikan di setiap tempat dalam kunjungannya,” ujar Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim kepada Media Center Haji (MCH) di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Ahad (7/6/2026) waktu Arab Saudi.
Kiai Asep menyampaikan pesan itu menjelang kepulangannya ke tanah air bersama rombongan Amirulhaj yang lain, termasuk Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan.

Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA saat diwawancarai M Suthon Negara, wartawan HARIAN BANGSA dan BANGSAONLIN.com yang merupakan bagian dari Media Center Haji (MCH) di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Ahad (7/6/2026).
Menurut Kiai Asep, menjaga kesehatan jemaah harus lebih diutamakan. Jika memang dirasa lelah, tegas Kiai Asep, para jemaah haji cukup melaksanakan ibadah di hotel atau pemondokan, dan pahalanya sama.
Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya: “Dijadikan untuk-ku dan untuk umat-ku bumi adalah masjid”.
Berdasarkan Hadits itu, menurut Kiai Asep, ibadah di wilayah tanah haram tanpa harus di masjid, maka pahalanya tetap sama.
“Oleh karena itu, kelipatan ibadah itu 100 ribu kali lipat. Untuk itu, jangan terlalu mengejar di dalam masjid, tetapi cukup di rumah (hotel) sudah dilipatkan 100 ribu kali lipat,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim.
“Tentu di masjid punya kelebihan, antara lain bisa minum air zamzam, bisa lihat ka’bah, tapi di rumah (hotel) pun sudah 100 kali lipat (pahalanya),” tambah putra pendiri NU KH Abdul Chalim Leuwimunding Majalengka Jawa Barat itu.
Karena itu, Kiai Asep berharap jemaah memahami dan tidak terlalu memaksakan diri, mengingat jemaah haji tahun ini mayoritas lansia.
“Kesehatan tubuh lansia berbeda dengan yang masih muda,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 mendapat anugerah Bintang Maha Putra Nararya dari Presiden Prabowo Subianto.
Kiai Asep juga mengapresiasi penyelenggaraan haji tahun 2026, di bawah kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah Gus Irfan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mengungkap sebuah survey bahwa keberhasilan seorang pemimpin bisa dilihat dari lima hal, yakni integritas, kejujuran, disiplin, akhlak mulia, damai, dan kerja keras.
“Integritas kejujuran, disiplin, akhlak mulia, komunikasi baik, tidak menunjukkan kesombongan, damai, membawa situasi selalu baik, dan kerja keras. Ini semua lima hal jadi penunjang sebuah keberhasilan, dan ini semua ada pada Pak Menteri Gus Irfan) yang kemudian diikuti oleh petugas haji,” papar Kiai Asep.
Sebagai seorang menteri, lanjut Kiai Asep, Gus Irfan setiap hari selalu mengunjungi berbagai tempat, mulai dari tempat katering, pemondokan jemaah, dan berbagai tempat lainnya, untuk mengecek dan menyapa seluruh jemaah.
Menurut Kiai Asep, langkah Gus Irfan ini selain menunjukkan kerja keras juga empati kepada para jemaah haji. Pantauan BANGSAONLINE.com, Menhaj Gus Irfan memang selalu berbaur secara natural atau alami dengan para jemaah haji. Putra KH Muhammad Yusuf Hasyim itu selalu menyapa para jemaah sekaligus menginspeksi kinerja para petugas haji di lapangan.
Kiai Asep juga memberikan saran, untuk penyelenggaraan ibadah haji yang akan datang agar semakin baik. Ia minta para petugas kloter (daerah) harus memiliki perlengkapan yang lebih lengkap, utamanya bagi petugas kesehatan, mengingat peran petugas kloter yang juga vital.
Menurut Kiai Asep, dengan perlengkapan yang memadai, para petugas Kesehatan bisa memberikan pelayanan lebih maksimal untuk jemaah lansia.
“Jangan sampai mereka sakit, kalau sampai sakit, harus diketahui lebih awal, sehingga penyembuhannya lebih mudah. Karena itu perlu mempersiapkan alat-alat kesehatan dan obat-obatan termasuk misalnya pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, alat tensi, saturasi, jangan sampai ketinggalan, karena ini penting,” pesan Kiai Asep.
Kiai Asep juga mengimbau, agar seluruh petugas haji tidak hanya terbatas pada tugas dan fungsinya, tapi harus maksimal melayani seluruh urusan jemaah haji dan saling membantu antartugas para petugas, agar penyelenggaraan haji lebih baik. (msn)










