BANGKALAN,BANGSAONLINE.com - Rombongan jamaah haji asal Bangkalan yang tergabung dalam Kloter 69 dan Kloter 72 menggelar acara tasyakuran sederhana namun penuh makna di Makkah, Kamis (5/6/2026) malam.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya rangkaian puncak ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina.
Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti tasyakuran. Mereka saling bercengkrama dan berbagi pengalaman selama di tanah suci.
Pendamping jamaah haji asal Bangkalan, Aliman Haris mengatakan bahwa tasyakuran tersebut merupakan wujud syukur kepada Allah SWT karena seluruh rangkaian ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi dapat dilaksanakan dengan baik oleh jamaah asal Bangkalan.
"Alhamdulillah, seluruh proses ibadah haji yang menjadi puncak perjalanan spiritual para jamaah telah terlaksana dengan lancar. Tasyakuran ini menjadi bentuk rasa syukur kami atas nikmat, kesehatan, dan perlindungan Allah SWT selama menjalankan ibadah di Tanah Suci," ujarnya.
Menurut Aliman, perjalanan ibadah haji tahun ini tidaklah mudah. Sejak tiba di Makkah untuk melaksanakan tawaf qudum hingga prosesi melempar Jumrah Aqabah di Mina, para jamaah dihadapkan pada berbagai tantangan fisik maupun mental.
Cuaca yang panas, kepadatan jutaan jamaah dari berbagai negara, serta aktivitas ibadah yang padat menjadi ujian tersendiri.
Bahkan, tidak sedikit jamaah yang mengalami kelelahan, jatuh sakit, hingga sempat pingsan akibat kondisi fisik yang terkuras.
"Melaksanakan ibadah haji memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan ketahanan fisik yang luar biasa. Ada yang sakit, ada yang kelelahan, bahkan ada yang sempat pingsan, namun berkat kebersamaan, kekompakan, dan pertolongan Allah SWT, seluruh tantangan itu dapat dilalui dengan baik," tutur Aliman.
Ia bersyukur, dari sekitar 830 jamaah haji asal Bangkalan yang tergabung dalam empat kloter tersebut, seluruhnya dapat menjalani rangkaian puncak ibadah haji dengan selamat.
Rasa syukur itulah yang kemudian mendorong salah satu jamaah, Hj. Hosniyah, untuk menggagas acara tasyakuran.
Melalui makan bersama yang sederhana, para jamaah diajak mengenang kembali perjalanan spiritual yang telah mereka lalui, sekaligus mempererat tali persaudaraan yang terjalin selama berada di Tanah Suci.
Aliman menyebut, bagi mereka, ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik. Melainkan, perjalan spiritual sarat akan makna.
"Sebuah momen yang mengingatkan bahwa setiap tetes keringat, setiap langkah yang berat, dan setiap ujian yang dihadapi selama berhaji pada akhirnya bermuara pada satu hal: rasa syukur yang mendalam atas kesempatan menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci," ungkap Aliman. (uzi/van)










