Dindik Jatim Pamerkan 196 Inovasi Matang di Hadapan Tim Penilai Kemendagri

SURABAYA,BANGSAONLINE.com -Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur memaparkan capaian prestasi dan inovasi pendidikan periode 2024–2025 di hadapan tim penilai Innovation Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (18/5/2026).

Paparan tersebut menjadi bagian dari proses penilaian inovasi daerah yang dinilai berkontribusi terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan dan tata kelola pemerintahan.

Tim penilai yang hadir di antaranya Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, serta Guru Besar Fakultas Ekonomi Program Studi S2 Manajemen Universitas Sriwijaya, Dyah Natalisa.

Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menjelaskan berbagai program inovasi yang dijalankan telah memberikan dampak langsung terhadap layanan pendidikan di Jawa Timur. Sejumlah inovasi unggulan yang dipaparkan antara lain Program Terapan Ekonomi Guru Non-ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES).

Menurut Aries, kunjungan tim Kemendagri merupakan bagian dari penilaian langsung implementasi inovasi daerah. 

Ia menyebut Jawa Timur selama ini menjadi daerah dengan kontribusi inovasi terbanyak dalam ajang IGA Award dan berhasil meraih peringkat pertama nasional.

“Dindik Jatim memberikan kontribusi jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional,” ujar Aries.

Ia menambahkan, kontribusi sektor pendidikan terhadap capaian inovasi daerah terus meningkat dari 2024 hingga 2025. Dari total 398 inovasi yang diajukan, sebanyak 196 inovasi telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan hasil validasi dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Aries juga menekankan pentingnya mendorong para guru agar terus melahirkan inovasi. Menurutnya, inovasi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan lingkungan sekolah.

“Inovasi harus menjawab kebutuhan masyarakat agar pendidikan benar-benar berdampak luas,” katanya.

Selain itu, Aries menyoroti pentingnya kolaborasi dengan media dalam mempublikasikan inovasi pendidikan sebagai bagian dari konsep pentahelix. Salah satu wadah inovasi yang dikembangkan yakni EJIES, yang telah menghimpun sekitar 24 ribu inovasi dari insan pendidikan di Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menegaskan Jawa Timur hingga kini masih menjadi daerah paling inovatif di Indonesia dengan skor tertinggi dalam pengukuran inovasi daerah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat Jawa Timur berpuas diri. Menurutnya, sejumlah daerah lain juga terus melakukan percepatan inovasi sehingga dibutuhkan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan posisi tersebut.

“Jawa Timur bukan dalam posisi aman. Akselerasi inovasi harus terus dilakukan,” tegas Yusharto.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar saat ini adalah membangun ekosistem inovasi yang kolaboratif. Menurutnya, inovasi masih kerap berjalan sendiri-sendiri atau bersifat silo antarorganisasi perangkat daerah.

Yusharto mencontohkan pentingnya kolaborasi lintas sektor, seperti antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan dalam menghadirkan layanan transportasi pelajar agar akses pendidikan semakin mudah dan nyaman.

“Ekosistem inovasi perlu dibangun bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yusharto mengungkapkan Kemendagri saat ini tengah mempersiapkan penilaian inovasi daerah tahun 2026. Ia menyebut terdapat kemungkinan tema khusus yang dikaitkan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) maupun program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, terdapat 54 program prioritas nasional yang membutuhkan dukungan inovasi daerah agar target pembangunan dapat tercapai secara optimal.

“Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan tercapai hanya dengan cara-cara biasa,” tandasnya. (dev/van)