Hadiri Panen Raya di Tuban, Presiden Prabowo Dicurhati Petani: Butuh Irigasi hingga Alat Pascapanen

TUBAN, BANGSAONLINE.com - Kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam acara panen raya jagung di Kabupaten Tuban pada Sabtu (16/5/2026) lalu membawa angin segar bagi para petani hutan. Kedatangan orang nomor satu di Indonesia ini menumbuhkan optimisme bahwa berbagai kendala pertanian di wilayah tersebut akan segera teratasi.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari Tuban, Sudarlim, mengungkapkan bahwa masalah utama yang dihadapi petani saat ini adalah sistem pengairan yang masih tradisional.

"Kendala kami ialah pengairan untuk tanaman. Sebab, selama ini hanya mengandalkan hujan," kata Sudarlim kepada wartawan.

Sudarlim berharap kehadiran Presiden dapat membawa perhatian lebih bagi mereka. Terlebih lagi, sekitar 90 persen petani hutan di Tuban menggantungkan hidupnya dari menanam jagung. Keberhasilan mereka pun tidak main-main, Tuban tercatat sebagai penyumbang hasil panen jagung tertinggi di Jawa Timur.

Oleh karena itu, Sudarlim meminta pemerintah untuk segera membangun infrastruktur irigasi atau sumur dalam. Fasilitas ini dinilai krusial untuk meningkatkan frekuensi tanam sekaligus menekan risiko gagal panen saat kemarau.

"Karena di sini, wilayah saya ini kan kalau kadang tidak ada hujan, sudah gagal yang panen kedua. Itu petani rugi sangat besar, karena jagungnya tidak bisa jadi," keluhnya.

Di samping masalah irigasi, para petani menyampaikan apresiasi atas melonjaknya harga jual jagung yang kini menembus angka di atas Rp6.000 per kilogram. Harga ini dinilai sangat ideal untuk menutup tingginya biaya produksi.

"Kalau jual hasil tani, alhamdulillah sudah baik. Dulu harga jagung hanya Rp3.800-Rp4.000. Tapi sekarang sampai 6 (ribu) lebih. Sekarang sampai 6 (ribu) lebih, Rp6.200 per kilo. Berarti petani sangat gembira, karena biayanya banyak," beber Sudarlim.

Meski kondisi ketersediaan pupuk juga dilaporkan mulai membaik, petani tetap berharap adanya bantuan fasilitas pascapanen dari pemerintah, seperti mesin pengering (dryer). Alat ini dibutuhkan agar kualitas jagung mereka memenuhi standar Bulog sehingga harga jualnya tetap maksimal.

"Yang kita harapkan ada fasilitas untuk proses pengolahannya pascapanen, sehingga kita bisa mengakses Bulog dan mendapatkan harga maksimal," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memaparkan detail mengenai agenda Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 ini. Kapolri menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penguatan ketahanan pangan nasional.

Secara nasional, panen raya kuartal II ini dilakukan serentak di atas lahan seluas 189.760 hektare dengan potensi hasil mencapai 1,23 juta ton jagung. Menariknya, sebagian hasil panen ini direncanakan untuk komoditas ekspor.

"Rencananya hasil panen akan diekspor ke Malaysia," ungkap Kapolri.

Khusus untuk Kabupaten Tuban, panen dilakukan di lahan perhutanan sosial seluas 101,5 hektare yang dikelola oleh empat kelompok (KTH Wonolestari, LMDH Jenggolomanik, LMDH Wonomoyo, dan lahan PT Semen Indonesia). Lahan ini diproyeksikan menghasilkan 609 ton jagung yang seluruhnya akan didistribusikan ke Bulog.

"Karena untuk mendukung penguatan cadangan pangan pemerintah dan menjaga stabilitas pasokan," ucap Kapolri.

Melihat potensi besar ini, Presiden Prabowo Subianto mengaku sangat gembira. Ia mengapresiasi berbagai inovasi lokal di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah krisis global. Salah satu yang mencuri perhatian Presiden adalah pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi briket arang.

"Saya gembira. Bukan saya pura-pura. Saya lega. Kenapa? Karena dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi sekarang saya dikasih tahu, 'Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.' Waduh, luar biasa. Tadinya tongkol itu dibuang, ya. Sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa," papar Presiden.

Menurut Presiden, inovasi ini membuktikan bahwa SDM Indonesia sangat kreatif dan tangguh. Ia mengingatkan kembali bahwa sektor pangan adalah pilar kedaulatan negara yang krusial.

“Pangan adalah strategis. Apapun yang kau buat untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan kita, itu berarti anda mengamankan masa depan kita, kedaulatan kita,” tegasnya.

Selain briket, Presiden Prabowo juga menyoroti riset pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah. Inovasi ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor secara signifikan.

"Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat. Saya minta ini diimplementasi, konsep temuan bagus," tutup Presiden. (wan/rev)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: