Keren! Bahas Financial Freedom, Dahlan Iskan Tampil Energik di Depan Santri MBI Amanatul Ummah

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amanatul Ummah menggelar acara kreatif sekaligus inovatif di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur, Selasa (12/5/2026). 

Acara bertajuk Inspirasi Nasional itu menghadirkan tokoh inspiratif Dahlan Iskan. Tampil energik dan cekatan, Dahlan Iskan menghebohkan santri MBI yang duduk lesehan di lantai Masjid Raya KH Abdul Chalim yang luas dan terdiri dari dua lantai itu.

Tokoh pers yang sukses membangun imperium media di berbagai daerah itu sangat piawai memotivasi para santri. Penampilannya yang atraktif membuat acara Insprirasi Indonesia yang digelar MBI itu hidup. Apalagi Dahlan Iskan pakai metode interaktif. Tidak monolog. 

Semula Dahlan Iskan duduk di kursi didampingi Gus Ilyas, putra nomor 5 Prof Dr KH Asep Asep Saifudddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Gus Ilyas inilah yang sekarang mengkoordinasi MBI bersama para ustadz dan ustadzah. Diantaranya Ustadz Miftahul Huda, Ustadz Fajar, Ustadz Manshur, Ustadz Eko David,  dan ustadz serta ustadzah lainnya.

Dahlan Iskan bangkit dari tempat duduknya ketika MC menyebut namanya. Tokoh inspiratif itu menuju ke depan para santri dan ustadz serta ustadzah yang duduk lesehan di lantai masjid.

“Siapa yang biasa nabung,” tanya Dahlan Iskan yang pernah menjabat menteri BUMN RI sambil melangkahkan kakinya. 

Para santri putri langsung heboh. Mereka mengacungkan tangan sambil berteriak ramai. Begitu juga santri putra. Mereka ramai berteriak sambil mengacungkan tangan.

Gus Ilyas memberikan cindera mata kepada Dahlan Iskan. Foto: MMA/bangsaonnline.com.

Ternyata banyak sekali santri Amanatul Ummah yang gemar menabung. Mereka menyisihkan uang kiriman dari orang tuanya tiap bulan. Jadi, uang kiriman dari orang tuanya tak dihabiskan hanya untuk jajan. Tapi juga ditabung. 

Mantan Direktur Utama PLN itu lalu memanggil 6 santri ke depan. Tiga santri putra dan tiga santri putri.

Meski mengaku sudah tua tapi Dahlan Iskan aktif mengikuti postingan anak-anak muda di instagram atau media sosial lainnya.

Salah satunya, ia mengaku tertarik dengan unggahan mereka tentang financial freedom. Yaitu tentang kecederungan seseorang memiliki aset atau pendapatan pasif (passive income) yang cukup untuk membiayai gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari mereka tanpa harus bekerja aktif.

Financial freedom memang sedang ngetren di kalangan anak muda, termasuk para santri. Dahlan kemudian menanyakan satu per satu.

“Anda menabung dengan cara apa,” tanya Dahlan Iskan yang sangat produktif menulis hingga sekarang itu.

Jawaban santri beragam. Tentu jawaban terbanyak menabung di bank. Karena mereka mendapat kiriman dari orang tuanya lewat transfer bank. Namun ada jawaban santriwati yang membuat Dahlan Iskan terperangah. Namanya Latifah.

“Saya menabung dengan cara menitipkan uang saya kepada teman,” ujar Latifah.

Hah? Kok bisa? Alasannya, karena temannya amanah. Latifah sangat percaya terhadap temannya itu.

Dahlan Iskan dan Gus Ilyas serta Ustadz Huda dan ustadzah. Foto: MMA/bangsaonline.com.

Dahlan Iskan minta Latifah tidak menitipkan uangnya kepada temannya.

“Seharusnya tidak boleh. Kasihan teman anda,” ujar wartawan yang banyak menjelajah ke berbagai negara itu. Sebab, kalau suatu waktu uang itu hilang, menurut Dahlan, maka temannya yang akan kena beban.

“Kalau temannya kecurian, kasihan. Seharusnya temannya juga jangan mau (dititipi uang),” ujar Dahlan lagi. “Nanti jadi sumber fitnah. Taruh saja uangnya di koperasi atau bank,” tambah Dahlan Iskan yang di kalangan wartawan dipanggil Abah.

Dahlan Iskan kemudian menanyakan santri lainnya. Kali ini santri putra. 

“Saya menabung dengan cara menaruh uang di celengan,” ujar santri itu.

“Celengannya ditaruh di mana,” tanya Dahlan Iskan.

“Di lemari,” jawab sang santri.

“Celengannya terbuat dari apa?,” tanya Dahlan lagi.

“Dari besi,” jawab santri itu.

Dahlan Iskan langsung tertawa. Para santri juga tertawa. Termasuk para ustadz dan ustadzah yang juga duduk lesehan di masjid itu.

“Anda tidak salah. Yang salah bank. Berarti jaringan bank di Indonesia belum bisa ambil hati para santri madrasah bertaraf internasional. Berarti bank ini lemah,” ujar Dahlan Iskan kemudian.

Berkali-kali Dahlan Iskan mengatakan bahwa anda tidak salah. 

“Saya tidak menyalahkan anda. Ini kesalahan bank-bank di Indonesia. Ini pelajaran bagi saya,” ujar penulis produktif asal Takeran Magetan Jawa Timur yang memiliki 120 Madrasah Aliyah di berbagai tempat itu.

Dahlan Iskan memuji 6 santri MBI Amanatul Ummah itu confidence alias percaya diri. Sikap confidence itu, tegas Dahlan, akan membuat mereka maju.

Lalu kapan para santri itu mencapai financial freedom? “Pada usia 25 tahun,” ujar salah seorang santri. Lagi-lagi Dahlan Iskan memuji mereka.

Dahlan Iskan kemudian minta santri lain maju. Ia bertanya faktor apa saja yang jadi penyebab orang Indonesia tidak confidence sehingga tidak maju. Najwa, seorang santriwati maju ke depan.

Ia dengan penuh percaya diri pegang mik. “Karena orang Indonesia kurang berani menyampaikan pendapat. Kenapa tidak berani menyampaikan pendapat? Karena kalau salah diejek, dibully,” jawab Najwa.

Dahlan Iskan langsung memuji Najwa. Hebat.

“Jawaban Najwa benar. Najwa ini telah mengoreksi pikiran saya,” ujar Dahlan Iskan.

“Saya tadi dalam perjalanan di mobil berpikir orang Indonesia tidak confidence karena tidak bisa bahasa Inggris, sehingga tidak berani berkomunikasi dengan orang luar negeri,” ujar Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan kemudian mengeluarkan dua lembar uang pecahan Rp 50 ribu. Uang Rp 100 ribu itu diberikan kepada Najwa. Sebelumnya Dahlan Iskan juga memberikan uang kepada santri yang jawabannya dianggap hebat.

Menurut Dahlan, anak yang salah dalam menyampaikan penapat seharusnya tidak diejek, sampai ia tahu sendiri kalau pendapatnya salah. Dengan demikian ruang publik merangsang orang berani berpendapat.

Para santri MBI memang tampil penuh confidence. Bahkan ada seorang santri yang kemudian malah melontarkan pertanyaan balik kepada Dahlan Iskan.

“Kalau tadi bapak yang tanya, sekarang saya yang mau tanya kepada bapak,” tegas santri asal Pamekasan Madura itu.

Dahlan Iskan mempersilakan.

Si santri bertanya tentang proses success story Dahlan Iskan. Mantan bos Jawa Pos itu langsung tertawa.

“Sebenarnya saya malu menjawab,” kata Dahlan Iskan sembari tersenyum. Namun ia tetap menjawab. Ia bercerita proses success story-nya.

Tapi benarkah ia putra buruh tani yang tak punya sawah. Kenapa ia pernah tak lulus sekolah? Silakan ikuti tulisan selanjutnya. Hanya di BANGSAONLINE.com (bersambung)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: