Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Mustaâin menafsiri Surat Al-Hajj': 8-10. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
8. Wa minan-nÄsi may yujÄdilu fillÄhi bigairi âilmiw wa lÄ hudaw wa lÄ kitÄbim munÄ«r(in).
Di antara manusia ada yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan.
9. áč Äniya âiáčfihÄ« liyuážilla âan sabÄ«lillÄh(i), lahĆ« fid-dun-yÄ khizyuw wa nuĆŒÄ«quhĆ« yaumal-qiyÄmati âaĆŒÄbal-áž„arÄ«q(i).
Sambil memalingkan lehernya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Bagi dialah kehinaan di dunia dan pada hari Kiamat Kami mencicipkan kepadanya azab (neraka) yang membakar.
10. Ć»Älika bimÄ qaddamat yadÄka wa annallÄha laisa biáșallÄmil lil-âabÄ«d(i).
(Akan dikatakan kepadanya,) âHal itu disebabkan apa yang dahulu kamu lakukan dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.â
TAFSIR
Tiga tokoh kafir yang memusuhi Rasulullah SAW, yaitu: Abu Jahal, âAmr ibn Hisyam dengan kekuasaannya, oot dan okol. Abu Lahab, Abd al-Uzza, paman Nabi sendiri dengan kekayaan dan kecongkakannya, dan al-Nadlr ibn al-Harits dengan ilmu dan kepintarannya.
Kaitannya dengan ayat kaji ini, mayoritas mufassirin menuturkan, bahwa turunnya ayat ini terkait dengan ulah mereka. Bisa jadi melibatkan semuanya dan setidaknya salah satunya, entah yang mana. Dan sejarah menuturkan begitu. Mereka sama-sama memusuhi Nabi, menghujat dan merendahkan konsep teologis. â... man yujadil fi Allah bighair âilm..â.
Hujatan dan kejahatan Abu Lahab dan Abu Jahal sudah maklum. Sedangkan al-Nadlr ibn al-Harits ini agak nampak bersekongkol dengan orang nasrani. Bila kaum nasrani mengimani nabi Isa ibn Maryam itu anak lelaki Tuhan, maka si al-Nadlr menuduh Malaikat yang diimanai umat islam adalah anak perempuan Tuhan.
Usut punya usut karena al-Nadlr ibn al-Harits adalah ahli bahasa dan sastra arab papan atas. Dasar pemikirannya karena melihat bentuk kata dan dlamir yang biasa dipakai dalam al-qurâan, semua kata terkait âmalaikatâ pasti pakai âmuâannatsâ (perempuan).
Sederhana saja pikirannya, bahwa: muâannats dalam lafadh pasti muâannats pula dalam makna. Ya, memang begitu kaidah umum, tetapi sejatinya al-Nadlr mengerti banget, bahwa rumusan itu tidak mutlak. Sebab ada namanya bentuk majazi, muraâah, termasuk benda yang tak punya jenis kelamin dan lain-lain.
Perhatikan kata âal-ardlâ, artinya bumi, âal-samaââ (langit), al-Syams (matahari), semua bentuknya mudzakkar (laki-laki), tetapi bahasa arab, Alqurâan memposisikan kata-kata tersebut sebagai bentuk âmuâannatsâ. Sementara kata âal-qamarâ (rembulan) sebagai âmudzakkarâ (laki-laki). Kok begitu..?
Ya memang begitu kesepakatan ahli bahasa arab, wong arab dan anda yang non-arab harus tunduk. Lha gak ikut punya bahasa kok cerewet, kok ngatur. Perhatikan Alqurâan bicara terkait hal itu pada surah Al-Syams: âwa al-syams wa DhulaHAâ, pakai dlamir âHAâ (muâannats). âwa al-QAMAR idza TALA haâ. Tala- yatlu, mengiring-iringi, mneyertai.
Tala adalah fiâil madly berbentuk mudzakkar dipakai untuk menggandengi kata âqamarâ. Maka, berarti kata âqamarâ adalah mudzakkar. Andai kata âqamarâ sebagai muâannats, maka fiâilnya pasti âTALATâ . ..âidza talathaâ dan bukan â idza talahaâ.
Lalu kembali ke ayat berikutnya tetap pada surah al-syams, yang bertutur tentang bumi (al-ardl). âwa al-ardl wa thahaHAâ. HA, dhalir yang kembali ke al-ardl, berbentuk Muâannats lagi. Sekali lagi, sejatinya al-Nadlr ibn al-Harits sangat tahu itu, tapi dasar kafir, maka ngomongnya tidak lagi ilmu, melainkan nafsu.
Makanya jangan bertindak dengan nafsu, dikuatirkan aroma âkafirâ menyelinap masuk di pemikiran anda.
Lebih spesifik lagi, ayat kaji pertama (8) lebih bertutur pada penginkaran mereka terhadap hari kebangkitan, âYaum al-Baâtsâ kelak. Ayat kaji kedua (9) lebih mengungkap soal pengingkaran mereka terhadap risalah, diutusnya Muhammad SAW sebagai rasul. Semua pengingkaran tersebut sama sekali tidak didasari dengan tiga hal, yakni:
Pertama, ilmu (bighair âilm). Kedua, petunjuk (wa La huda), dan ketiga, kitab suci (wa La kitab munir). Kita coba breakdown satu per satu. Pertama, Ilmu itu cahaya penerang, pemandu berpikir jernih, menggiring penggunanya ke sikap obyektif dan jujur. Maka, sifat ilmu itu lintas, tak pandang apakah sang pengguna beriman atau tidak.
Misalnya terhadap konsep Tuhan: mana yang obyektif, konsep Tuhan itu satu dengan sifat yang serba Maha Sempurna, atau berjumlah tiga, termasuk di antara mereka ada unsur makhluk (dicipta), lahir belakangan setelah peradaban manusia berjalan ribuan tahun. Biarkan ilmu bekerja sendiri tanpa interversi dalam bentuk apapun. Pasti akan menemukan jawaban yang mutlak benar. Itulah âReasonâ.
Kedua, Huda, petunjuk, getar hati, sinyal yang ada dalam sanubari itulah yang bekerja, yang membisikkan. Tidak dimengerti dasar akediknya apa. Ya tidak tahu, pokoknya suara hati saya begini. Meskipun dia tidak memiliki ilmu, tetapi kepekaan ârasaâ benar-benar reflektif. Inilah yang mampu menggambarkan masa depan atau efek dari sebuah pilihan.
Seperti yang kita kenal dalam agama, yaitu shalt istikharah ketika seseorang bimbang dalam menentukan sikap atau keputusan. Lalu, oleh Rasulullah SAW dianjurkan agar shalat istikharah, memohon bantuan kepada Tuhan agar dipilhkan yang terbaik. Dan pilihan Tuhan pastilah yang terbaik.
Hasil pembacaan hati nurani setelah melaui proses kejernihan dan obyektif, inilah yang lazim disebut âconscienceâ. Semakin shalih seseorang, semakin tajam daya ârasaânya. Tentu saja, bagi yang sudah mantap, yakin, ya tidak perlu istikharah. Cukup berdoa saja, memohon yang terbaik.
Ketiga, âkitab munirâ, kitab suci yang mencerahkan. Ini lebih pada referensi agama atau penuturan wahyu, suara langit tentang obyek yang sedang dihadapi. Yang ketiga ini bisa dikata sebagai terlengkap dibanding yang pertama dan yang kedua.
Di samping meteri dan isi pesannya dipahami secara sungguhan, sesuai kaidah pemahanan yang umum, disikapi secara jujur dan obyektif, hati sang pengkaji juga bersih dan jernih, beriman dan yakin betul akan kebenaran refesnsi yang dipakai. Inilah yang disebut sebagai âguideâ.
Terhadap persoalan bumi, guide ilahiah memonitornya dari langit sehingga obyeknya terlihat semua secara detail. Karena itu, mendownload situs langit untuk dijadian panduan dalam bersikap adalah keniscayaan bagi orang beriman. âSemakin jernih hati seseorang, akan semakin jelas sinyal ilahi yang ditangkapâ.
Karena tiadanya tiga hal tersebut, maka sikap mereka kepada Rasulullah SAW adalah berpaling, menghina dan mengingkari, âTsaniya âithfih liyudlila âan sabilih..â. Kata â Tsaniyaâ bukan dari tsani yang berarti dua, melainkan dari fiil âtsanaâ yang berarti âLawwaâ, berpaling.
âithfihâ adalah istilah dari sebuah âsisiâ, bagian sebelah. Di mana ideom ini sangat terkenal sekali dalam tradisi arab, untuk mambahasakan orang yang congkak, angkuh, berpaling, dan menghina. Kayak orang yang sedang âmelentosâ (Jawa), membuang muka dan menudukkan kepala, memejamkan mata ketika berpapasan dengan orang yang dibenci.
Sikap begini ini atau yang sejenis ini, senada dengan ini diungkap di dalam al-qurâan dengan berbagai bahasa dengan arti yang serupa. Tercatat ada sekitar tujuh belasan tesis mengunggah hal tersebut. Begitu tutur al-imam al-Qurthubi. (Al-Jamiâ : XII/p.15). Lalu, sikap mereka itu kelak akan menuai balasan sesuai tindakan. Dan Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya Sendiri.










